Djawanews.com – Bayi yang baru lahir akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur daripada terjaga. Pola tidur bayi masih belum beraturan dan cenderung berubah-ubah. Si kecil akan tiba-tiba terbangun kala merasa haus, lapar, atau tidak nyaman dalam tidurnya. Kondisi tersebut seringkali disebut dengan regresi tidur.
Saat mengalami regresi tidur, bayi yang sedang tidur nyenyak tiba-tiba mengalami kesulitan untuk tidur atau bangun dengan rewel di tengah malam.
Penjelasan Soal Regresi Tidur pada Bayi
Dikutip dari Healthline regresi tidur biasanya terjadi bertepatan dengan tonggak utama bayi seperti kemampuan berguling, merangkak, hingga berjalan. Oleh karena itu, kebanyakan bayi akan mengalami regresi tidur pada usia 3-12 bulan.
Kebanyakan bayi mengalami regresi tidur pada usia ini, sehingga mungkin akan terasa sulit bagi orang tua. Ada beberapa penyebab di balik masalah tidur bayi pada usia 3-4 bulan. Mulai dari rasa sakit karena tumbuh gigi, rasa lapar yang terkait dengan percepatan pertumbuhan, dan kemampuan berguling untuk pertama kalinya.
Bayi akan mengalami growth spurt atau percepatan pertumbuhan kedua pada usia 6 bulan. Hal ini bisa jadi mengganggu siklus tidur si kecil lagi, Moms. Meski begitu, biasanya bayi sudah bisa tidur sepanjang malam dan hanya bangun untuk mengubah posisi pada usia ini.
Umumnya, bayi mulai merangkak ketika usia 8-9 bulan dan mulai berdiri pada usia 10 bulan. Namun, beberapa dari mereka juga memulainya lebih lambat atau lebih cepat dari itu. Memasuki tonggak perkembangan ini bayi juga cenderung lebih sulit tidur di malam hari. Si kecil akan terbangun di malam hari dan terus mencari keberadaan ibunya.
Beberapa bayi akan mulai berdiri pada usia 10 bulan kemudian mengambil langkah pertamanya di usia 12 bulan. Kemampuan berjalan termasuk pencapaian besar dalam perkembangan bayi. Jadi, jangan heran bila ini juga akan mempengaruhi siklus tidur si kecil, Moms.
Ingin tahu informasi mengenai kesehatan lainnya? Pantau terus Djawanews dan ikuti akun Instagram milik Djawanews