Djawanews.com – Pernahkah kamu ada di posisi di mana kamu disalahkan atas hal yang tidak pernah kamu perbuat sebelumnya? Jika iya, itu adalah perilaku yang sering disebut dengan gashlighting.
Gaslighting adalah suatu keadaan dimana seseorang membuat kamu mempertanyakan realitas yang kamu jalani. Saat kamu terjebak dalam situasi dimana kamu di gaslight, kamu akan mulai mempertanyakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kamu dan juga berpikir bahwa pendapat orang lain akan dirimu adalah benar.
engutip dari NBC News Better, menurut Robin Stern, associate director dari Yale Center for Emotional Intelligence dan penulis dari "The Gaslight Effect," bahwa bahaya dari melepaskan realitas yang kita miliki sangatlah ekstrim.
Perilaku gaslighting yang awalnya dapat dipicu oleh hal-hal kecil lama-lama dapat berkembang menjadi lingkaran yang tidak ada akhirnya. Jika kamu terjebak dengan orang-orang yang sering melakukan gaslighting, maka lebih baik kamu mundur dari hubungan-hubungan tersebut. Karena kalau kamu terjebak dalam waktu yang lama hal ini akan sangat merusak hubungan kamu, baik dengan orang lain maupun dengan hubungan dengan dirimu sendiri.
Gaslighting sering terjadi pada hubungan personal meliputi pasangan, teman, ataupun dari keluarga, termasuk orang tua kamu. Tidak jarang juga gaslighting terjadi dalam hubungan professional seperti di tempat kerja, dimana bos ataupun teman kantor-mu bersikap manipulatif.
Gaslighting biasanya terjadi karena adanya dinamika kekuasaan. Manipulator memegang kekuasaan lebih yang membuat target dari gaslighting merasa takut untuk mengubah hubungan tersebut dan takut untuk berbicara guna membela diri mereka sendiri. Hal ini dikarenakan mereka takut bahwa dengan mereka “speak up”, mereka akan kehilangan hubungan tersebut.
Sebagai contoh, seorang anak remaja yang stress dikarenakan gaslighting yang dilakukan oleh orang tuanya akan merasa takut untuk “speak up” karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, ketika ia mencoba untuk speak up dengan kata dan perilaku yang sopan, orang tuanya akan membantah semua perkataan anaknya dan biasanya berakhir dengan orang tua anak tersebut menganggap anaknya tidak mempunyai rasa hormat akan orang tuanya dan mengatakan bahwa si anak tidak bersyukur dengan berargumen bahwa orang tua nya telah menyediakan segala kebutuhan sang anak.
Walaupun benar bahwa orang tua telah meyediakan semua kebutuhan sang anak, tetapi yang perlu kita fokuskan pada contoh ini adalah fakta bahwa sang anak mengekspresikan rasa tidak suka nya pada perilaku orang tuanya dengan sopan tetapi orang tuanya malah membuat situasi tersebut sepenuhnya tentang mereka. Dalam hal ini, ketika sang anak memutuskan untuk speak up, yakinlah bahwa ia telah memikirkan hal tersebut dengan matang dan juga dibutuhkan keberanian bagi si anak untuk menyuarakan pendapatnya.
Dari contoh diatas dapat kita lihat bahwa orang tua si anak remaja tersebut melakukan gaslighting dengan tidak mengakui perasaan sang anak dan memperlakukan perasaan sang anak seolah tidak penting.
Ingin tahu informasi mengenai relationship lainnya? Pantau terus Djawanews dan ikuti akun Instagram milik Djawanews.