Djawanews.com - Perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang kini memasuki minggu kedua, memberikan dampak besar terhadap pasokan energi Asia. Jalur perdagangan vital untuk energi global, Selat Hormuz kini tersumbat total, mengakibatkan terhentinya hampir seluruh ekspor minyak dan gas alam dari Teluk Persia. Pasokan energi yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara besar Asia kini terancam.
Harga minyak mentah Brent melonjak melampaui 100 dolar AS per barel, naik 37 persen dalam waktu singkat, sementara harga gas alam di Eropa pun mengalami lonjakan tajam.
Meski demikian, dampaknya dirasakan paling kuat di Asia, yang bergantung besar pada impor energi dari Teluk Persia. Pada tahun 2025, sekitar 87 persen minyak mentah dan 86 persen LNG yang transit melalui Selat Hormuz diserap oleh negara-negara Asia.
Pengaruh Penutupan Selat Hormuz terhadap Pasokan Energi Asia
Sebagian besar negara di Asia, seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, sangat bergantung pada pasokan minyak dan gas alam dari kawasan Teluk. Ketika jalur ini tersumbat, Asia langsung kehilangan sumber utama energi.
Selain itu, fasilitas ekspor LNG utama Qatar juga lumpuh akibat serangan drone, yang semakin memperburuk situasi pasokan energi.
Negara-negara berkembang seperti Bangladesh dan Pakistan, yang sebagian besar mengandalkan impor LNG dari Qatar, kini berada dalam kondisi terdesak. Biaya pengiriman LNG dari Atlantik ke Asia pun melonjak hingga enam kali lipat, membuat harga energi semakin tidak terjangkau.
Dengan melonjaknya harga energi, kilang-kilang pasokan energi Asia mulai kesulitan mendapatkan pasokan minyak mentah. Harga minyak yang sebelumnya berada di bawah 100 dolar AS per barel kini telah menembus angka 110 dolar AS per barel, bahkan Tiongkok terpaksa membeli minyak mentah WTI dari Amerika dengan harga yang lebih tinggi.
Negara-negara seperti India, Korea Selatan, dan Singapura yang memiliki cadangan energi terbatas mulai mengambil langkah darurat, mengurangi produksi minyak dan bahan bakar.
Keadaan ini tidak hanya mempengaruhi sektor energi, tetapi juga industri-industri lain, seperti petrokimia dan produksi plastik. Harga bahan baku yang meningkat tajam memicu kelangkaan dan krisis bahan baku di banyak negara.
Krisis yang dipicu oleh perang Iran-AS menunjukkan betapa rentannya pasokan energi global, terutama bagi negara-negara di Asia. Ketergantungan mereka pada pasokan energi dari Teluk Persia membuat kawasan ini menjadi sangat terpengaruh oleh ketidakstabilan politik.
Dalam menghadapi krisis ini, pasokan energi Asia dihadapkan pada tantangan besar untuk mengelola cadangan energi mereka dan mencari alternatif lain guna menjaga stabilitas ekonomi.
Demikian informasi seputar pasokan energi Asia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Djawanews.com.