Djawanews.com - Pihak Moderna pada Rabu 1 September sudah mengakui bahwa batch dari vaksin COVID-19 yang dikirim ke Jepang terkontaminasi dengan partikel baja tahan karat. Namun Moderna masih yakin kalau zat asing itu tidak akan berefek pada keselamatan penerima suntikan.
Pekan lalu, Jepang menangguhkan 1,63 juta dosis Moderna di seluruh negeri. Perusahaan AS itu memang sedang menghadapi tekanan besar di Jepang menyusul laporan zat asing yang terdeteksi dalam botol.
Belum lagi penyelidikan yang sedang dilakukan pihak berwajib terkat kematian dua pria yang menerima dosis dari batch yang tercemar. Namun hingga saat ini, penyebab kematian mereka belum diketahui.
Dilansir dari Japan Today, Kamis 2 September, dalam pernyataan bersama dengan mitra Jepangnya, Takeda, Moderna mengatakan kontaminasi di pengiriman vaksin yang ditangguhkan telah ditelusuri dan ketahuan berasal dari pabrik yang dijalankan oleh kontraktor Spanyol, ROVI Pharma Industrial Services.
"Kehadiran partikel baja tahan karat yang langka dalam vaksin Moderna COVID-19 tidak menimbulkan risiko yang tidak semestinya terhadap keselamatan pasien dan tidak mempengaruhi profil manfaat/risiko produk," kata pernyataan itu.
Partikel logam dengan ukuran ini yang disuntikkan ke otot dapat menyebabkan reaksi di tempat, tetapi tidak mungkin lebih dari itu, tambahnya.
"Stainless steel secara rutin digunakan pada katup jantung, penggantian sendi dan jahitan logam dan staples. Dengan demikian, tidak diharapkan bahwa injeksi partikel yang diidentifikasi dalam lot ini di Jepang akan mengakibatkan peningkatan risiko medis."
Moderna menambahkan bahwa untuk saat ini, tidak ada bukti bahwa kedua kematian itu terkait dengan pemberian vaksin dan "hubungannya saat ini dianggap kebetulan." Investigasi sedang berlangsung.