Djawanews.com - Malaysia terus mendorong investasi data center berbasis AI seiring meningkatnya kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data untuk berbagai layanan digital. Johor menjadi salah satu kawasan utama yang dikembangkan karena memiliki lahan luas dan lokasi strategis di dekat Singapura.
Kedekatan tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi Malaysia. Singapura selama ini dikenal sebagai pusat keuangan dan logistik Asia Tenggara, tetapi mulai membatasi pembangunan pusat data baru sejak 2019 karena keterbatasan lahan serta pasokan listrik.
Johor Menjadi Pusat Pertumbuhan Investasi Data Center Berbasis AI Malaysia
Perkembangan data center Malaysia terlihat pesat di Johor. Bangunan-bangunan besar menyerupai gudang kini berdiri di atas lahan yang sebelumnya digunakan sebagai perkebunan kelapa sawit. Pembangunan fasilitas baru juga masih berlanjut di sejumlah lahan kosong.
Menurut JLand Group, pengembang yang terkait dengan pemerintah negara bagian Johor, salah satu kawasan data center tersebut memiliki luas sekitar 5,6 kilometer persegi. Sekitar separuh kawasan sudah beroperasi, sedangkan bagian lainnya masih dalam tahap pembangunan.
Kawasan tersebut membutuhkan pasokan listrik sekitar 1.700 megawatt per Agustus. Besarnya kebutuhan energi tidak terlepas dari fungsi pusat data untuk menampung server yang menyimpan dan memproses informasi, termasuk data yang mendukung layanan AI generatif.
Posisi Malaysia yang dinilai netral dalam kebijakan luar negeri turut menarik perusahaan dari Amerika Serikat dan Tiongkok. Sejumlah perusahaan Eropa juga ikut menanamkan investasi pada sektor infrastruktur digital tersebut.
Investasi Besar Diiringi Tantangan Energi dan Lingkungan
Ledakan penggunaan AI semakin meningkatkan permintaan terhadap pusat data. Bank sentral Malaysia menyebut investasi terkait AI turut membantu perekonomian negara tersebut mencatat pertumbuhan 5,2 persen pada 2025.
Namun, investasi data center berbasis AI tidak otomatis menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Pekerjaan yang tersedia umumnya berkaitan dengan pemeliharaan fasilitas dan pengelolaan operasional.
General Manager Senior Kemitraan Strategis dan Pengembangan Bisnis JLand Group, Faezah Ayub, menegaskan bahwa Malaysia tidak hanya ingin menambah jumlah data center. Pengembangan tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem infrastruktur digital berkelanjutan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, keamanan sumber daya, dan tanggung jawab lingkungan.
Di sisi lain, pembangunan pusat data memicu kekhawatiran mengenai konsumsi listrik dan air. Sejumlah warga Johor juga mengeluhkan debu proyek serta potensi kekurangan air untuk masyarakat.
Pemerintah negara bagian menyatakan Johor memiliki pasokan listrik dan air yang cukup untuk mendukung proyek yang sedang berjalan maupun direncanakan. Penggunaan energi berkelanjutan dan energi terbarukan juga terus didorong.
Investasi data center yang berbasis AI berpeluang memperkuat posisi Malaysia dalam ekonomi digital. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada kebijakan yang jelas serta pengelolaan energi, air, dan dampak lingkungan secara berkelanjutan.
Demikian informasi seputar investasi data center berbasis AI. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Djawanews.com.