Djawanews.com - Panglima TNI Jenderal Moeldoko, pada 2014, menjawab protes Singapura terkait penamaan kapal perang terbaru TNI, KRI Usman Harun -359. "Saya tidak terima kalau Usman-Harun itu dinyatakan sebagai teroris. Mereka (Usman dan Harun) Marinir, kok,” katanya, saat itu.
Menteri Luar Negeri Singapura K. Shanmugam dalam pernyataan tertulisnya ketika itu menyebut, "Tindakan tersebut akan mengorek kembali luka lama warga Singapura, terutama keluarga para korban."
Luka lama yang dimaksud adalah peristiwa 10 Maret 1965, pukul 15.07. Bom berkekuatan besar meledak di Gedung McDonald House di Orchard Road, Singapura.Saat itu, The Hongkong and Shanghai Bank di dalamnya, sebenarnya sudah tutup 7 menit sebelumnya, tapi tak kurang dari 150 karyawan masih melakukan pencatatan transaksi hari itu.
Bom di Gedung McDonald Singapura itu, membuat bangunan rusak parah, kaca jendela bangunan lain berjarak 100 meter pun turut ambyar. Bahkan, kantor Komisi Tinggi Australia (Australian High Commission) yang juga ada di dalam bangunan turut berantakan. “Pemeriksaan pada bangunan menunjukkan, 9 hingga 11 kilogram bahan peledak nitrogliserin yang digunakan dalam pemboman," dikutip dari Singapore Infopedia.