Djawanews.com - Pemerintah menawarkan peluang investasi wisata bahari Indonesia kepada investor global dalam forum The 6th Monaco Smart and Sustainable Marina Rendezvous di Monako. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyoroti peluang pengembangan marina dan layanan yacht seiring meningkatnya permintaan wisata laut.
Pasar yacht Indonesia diproyeksikan tumbuh dari US$261,9 juta pada 2025 menjadi US$449,1 juta pada 2033. Angka 2033 tersebut merupakan proyeksi, bukan nilai investasi yang telah diperoleh.
Pasar Yacht Tumbuh, Kapasitas Marina Masih Terbatas
Menurut paparan Kementerian Pariwisata, proyeksi pertumbuhan pasar yacht setara dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sekitar 7%. Indonesia juga mencatat 127 kedatangan superyacht sepanjang periode 2025–2026, tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah Australia.
Data itu menjadi salah satu dasar pemerintah menawarkan peluang investasi kepada pengembang marina, operator, dan pelaku layanan pendukung yacht.
Minat terhadap wisata laut turut terlihat dari kunjungan wisatawan mancanegara. Pada 2025, Indonesia menerima 15,4 juta kunjungan wisatawan asing. Data Badan Pusat Statistik yang disampaikan Kementerian Pariwisata menunjukkan 52,6% di antaranya melakukan aktivitas wisata bahari selama berada di Indonesia.
Namun, fasilitas untuk kapal pesiar pribadi masih terbatas. Indonesia memiliki 10 marina dengan total 336 tempat berlabuh. Sebagai perbandingan, Singapura memiliki lebih dari 1.200 tempat berlabuh, sedangkan Malaysia dan Thailand masing-masing lebih dari 1.400.
Selisih kapasitas ini menunjukkan ruang pengembangan marina, meski keputusan investasi tetap memerlukan kajian lokasi, permintaan, dan kesiapan layanan.
Peluang Investasi Wisata Bahari Indonesia dari Pelabuhan hingga Layanan Wisata
Indonesia telah menetapkan 29 pelabuhan keluar-masuk yacht. Sebanyak 19 di antaranya memiliki skema masuk melalui jalur kepabeanan duty-free. Pemerintah melihat peluang investasi pada pembangunan marina, penambahan tempat berlabuh, serta layanan yang dibutuhkan kapal dan pengunjungnya.
Daya tarik wisata bahari tersebar di berbagai wilayah, antara lain Kepulauan Riau, Belitung, Bali, Lombok-Gili Tramena, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Raja Ampat. Pemerintah juga menyebut sekitar 700 lokasi penyelaman sebagai bagian dari potensi wisata laut Indonesia.
Keragaman destinasi tersebut memberi pilihan bagi pengembangan rute berlayar dan kegiatan wisata di sekitarnya.
Widiyanti mengundang pengembang marina, investor yacht, dan pelaku ekosistem terkait untuk terlibat. Pemerintah berharap pengembangan fasilitas wisata bahari turut memberi peluang bagi operator wisata, usaha perhotelan, transportasi, UMKM, dan masyarakat setempat.
Tawaran investasi wisata bahari Indonesia di Monako menyoroti jarak antara potensi pasar yacht Indonesia dan kapasitas marina yang tersedia. Pengembangan fasilitas dan layanan pendukung menjadi kunci agar peluang wisata bahari dapat dimanfaatkan oleh destinasi serta pelaku usaha lokal.
Demikian informasi seputar perkembangan investasi wisata bahari Indonesia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Djawanews.com.