Djawanews.com - Eksplorasi migas di Bali memasuki tahap baru setelah pemerintah menyetujui pengalihan Participating Interest (PI) pada Wilayah Kerja (WK) Agung I dan Agung II. Kegiatan tersebut melibatkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), bp, serta Inpex untuk mengkaji potensi hidrokarbon di perairan Bali.
Melalui pengalihan PI tersebut, posisi pemegang hak partisipasi pada WK Agung I dan Agung II kini terdiri dari bp dan Inpex dengan komposisi masing-masing 50 persen. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat kegiatan eksplorasi migas Bali melalui survei seismik dan analisis potensi cadangan.
Survei Seismik Migas Bali untuk Mengungkap Potensi Hidrokarbon
Percepatan eksplorasi dilakukan melalui koordinasi antara SKK Migas, bp, Inpex, Pemerintah Provinsi Bali, serta akademisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah pelaksanaan survei seismik 2D sepanjang 285 kilometer dan survei seismik 3D seluas 3.650 kilometer.
Survei seismik menjadi tahap penting dalam industri hulu migas karena berfungsi untuk memperoleh gambaran struktur bawah permukaan sebelum menentukan lokasi pengeboran. Data hasil survei nantinya akan dianalisis untuk melihat indikasi keberadaan cadangan hidrokarbon.
Pemerintah Provinsi Bali memberikan dukungan terhadap kegiatan eksplorasi ini dengan tetap memperhatikan pendekatan kearifan lokal. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kelancaran kegiatan survei seismik yang direncanakan berlangsung hingga awal 2027.
Berdasarkan perhitungan awal, WK Agung I dan Agung II memiliki potensi hidrokarbon pada kisaran 1 triliun hingga 7 triliun kaki kubik (TCF) gas. Namun, potensi tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui rangkaian eksplorasi dan pengeboran sebelum dapat dikembangkan secara komersial.
Investasi Eksplorasi Migas di Bali dan Prospek Pasokan Gas Nasional
Dalam kegiatan eksplorasi migas Bali ini, investasi untuk survei seismik disiapkan lebih dari US$42,7 juta. Apabila hasil analisis menunjukkan indikasi cadangan yang signifikan, kegiatan akan dilanjutkan dengan pengeboran satu sumur eksplorasi dengan investasi sekitar US$25 juta sebagai bagian dari komitmen pasti.
Selain WK Agung I dan Agung II, perhatian juga diarahkan pada eksplorasi WK Barong yang berada di perairan utara Pulau Bali. Pengembangan berbagai wilayah kerja tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan potensi sumber daya energi nasional.
Jika cadangan gas ditemukan dan memenuhi aspek keekonomian, produksi dari wilayah tersebut diproyeksikan dapat mencapai sekitar 200 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Kondisi ini berpotensi mendukung kebutuhan pasokan gas domestik sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Eksplorasi migas di Bali menjadi langkah strategis untuk mengetahui potensi energi di wilayah tersebut. Melalui kolaborasi pemerintah, SKK Migas, bp, dan Inpex, kegiatan eksplorasi diharapkan mampu menghasilkan temuan cadangan yang mendukung kebutuhan energi nasional secara berkelanjutan.
Demikian informasi seputar perkembangan eksplorasi migas di Bali. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Djawanews.com.