Djawanews.com – Duta Besar RI untuk Malaysia Hermono menegaskan hingga saat ini tidak ada klaim resmi dari otoritas Malaysia atas tradisi Pacu Jalur Kuantan Singingi, Riau. Hal ini menanggapi isu adanya klaim atas tradisi tersebut oleh warganet Malaysia.
"Yang beredar, bisa saja itu klaim tidak resmi yang dilakukan orang Indonesia, atau hanya tuduhan yang tanpa dasar bahwa diklaim Malaysia. Tapi secara resmi tidak ada mengklaim itu punya mereka," kata Dubes Hermono kepada ANTARA, Rabu, 9 Juli.
Dia menyampaikan jika melihat sejarah, orang-orang di Malaysia banyak yang nenek moyangnya berasal dari wilayah Indonesia. Sebelum merdeka, orang Indonesia banyak yang bermigrasi ke Malaysia.
Pada saat bermigrasi, para orang Indonesia membawa budayanya masing-masing.
"Ada Riau, Padang, Sulsel, Jawa dan lain-lain. Oleh sebab itu, sekarang di Malaysia juga kita jumpa banyak kemiripan atau bahkan kesamaan budaya, karena dulu dibawa orang asal Indonesia yang sekarang menjadi warga negara Malaysia," jelasnya.
Dia menyampaikan, banyak juga beberapa nama tempat yang sama antara Indonesia dengan Malaysia.
"Pacu Jalur itu setahu saya dilakukan di Sungai Kuantan Riau, nah di Malaysia juga ada Kota Kuantan, juga ada Sungai Kuantan di Pahang. Jadi ada kemiripan. Namun sejauh ini tidak ada klaim resmi dari pemerintah Malaysia bahwa Pacu Jalur warisan budaya mereka," kata Dubes.
Dia mengimbau warga negara Indonesia atau pengguna media sosial di Indonesia, tidak mudah terprovokasi dengan berita-berita ataupun tayangan di media sosial, karena isu ini dapat memicu keributan di media sosial.
Semestinya, kata Dubes Hermono, kemiripan atau kesamaan budaya antara Indonesia dengan Malaysia, justru menjadi perekat yang memperkuat hubungan antara Indonesia dengan Malaysia.
Menurutnya, selama ini kemiripan budaya justru menjadi unsur merenggangkan atau memicu keributan di media sosial, terutama di level masyarakat.
"Warga negara Indonesia jangan mudah terprovokasi oleh berita-berita di sosmed yang tidak jelas sumbernya. Saya kira itu yang perlu disampaikan. Jangan sampai kemiripan atau kesamaan budaya justru menjadi faktor yang memicu kegaduhan yang tidak perlu di sosmed," harap Dubes Hermono.